Sabtu, Oktober 27

testing tulisan: cerpen

KARENA KAMU SPESIAL
Oleh : Destyka Putri

“What! Pake baju putih?!” Intan terbelalak
“Iya, buat acara baksos nanti kita pake baju putih.”
“Kenapa harus putih sih? Aku nggak suka!”
Selama ini Intan memang tidak suka dengan baju berwarna putih. Intan selalu merasa tidak nyaman untuk mengenakannya. Bahkan saking tidak sukanya Intan kepingin cepat-cepat melewati hari Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis yang memang identik dengan warna putih-abu. Kulitnya yang hitam membuat Intan benci memakai pakaian berwarna putih. Karena pakaian putih pula, Intan diledek dengan panggilan si Tv hitam putih—alias si black and white. Yang kata sebagian teman-teman yang usil Intan tidak pantas dengan warna itu.
“Kalian itu egois ya, kalian Cuma mikirin diri sendiri! La, kenapa sih nggak interupsi aja waktu rapat, pilih warna lain. Kamukan sahabat aku, kamu tahu aku nggak suka warna itu.”
“Ya ampun Tan, kenapa sih Cuma karena masalah baju aja didebatin?” Lila mencoba santai
“karena Aku nggak suka putih!”
“Kenapa, kan di pakainya juga Cuma sehari.”
“kamu nggak ngerti, aku nggak suka putih karena aku hitam!” muka Intan masam
“La, justru karena satu hari itu bisa-bisa aku jadi pusat tertawaan.”
Intan menarik nafas panjang,
“Intan! Separanoid itukah kamu terhadap warna putih dan senegatif itukah citramu terhadap dirimu?”
Perdebatan itu terus berlangsung. Sampai keduanya benar-benar lelah dan memutuskan menyudahinya sejenak dengan minum jus jeruk di kantin sekolah.

***
Ruang OSIS sudah terlihat penuh. Panitia Baksos korban banjir sudah berkumpul hampir seluruhnya. Mata Lila berkelana, mencari sosok sahabatnya.
“Oke, rapat kita mulai.” Ketua pelaksana mengomandoi. Sekretaris menyiapkan absensi untuk diedarkan.
Rapat sudah berlangsung setengah jalan
“Maaf saya Cuma mau memastikan, apa baju yang kita pakai sudah pasti warna putih?” Lila berusaha menyuarakan kegundahan sahabatnya itu.
“Yap! Pasti banget, karena putih itu mencerminkan ketulusan.” Ujar seorang ketua pelaksana
“Tapikan ketulusan nggak harus pake baju putih, asalkan hati kita yang tulus nggak pake baju putih juga bakalan tercermin kok ketulusannya.”
“Lila, masalah bajukan udah kita sepakati bareng-bareng kemarin.” Timpal sang sekretaris
“Oke, semua beres, kita tinggal siap-siap aja buat hari H-nya.”
Rapat pun ditutup
Seusai rapat Lila bermaksud berkunjung ke rumah Intan sekaligus belajar bareng. Hari itu sebenarnya mereka sudah janji untuk pulang bersama.
Di rumah, Intan masih memikirkan masalah siputih
“Bu, kenapa sih aku item? Kenapa juga aku dinamakan Intan itu nggak sesuai dengan dengan keadaan aku.” Tanya intan pada Ibunya yang tengah duduk santai bersamanya.
“Kok, tiba-tiba Intan nanya gitu?” Sang Ibu balik tanya
“Bu, Intan merasa nggak PD.” Nadanya parau
Ibu membelai kepala Intan
“Karena kamu itu spesaial.”
“spesial? Aaah Ibu, jawabannya nggak memuaskan! Blug…” Intan membanting banatal yang semuala Ia peluk.
“Assalamu’alaikum, siang Tante.”
“Walaikum salam, siang Lila… Ayo masuk.”
Lila menyalami tangan Ibu Intan dengan penuh takzim
“Lila, masuk saja langsung ke kamar Intan.”
“Ya Tante.” Lila langsung menuju kamar Intan
Intan tengah asyik membaca sebuah majalah remaja. Sesekali mulutnya ditarik ke kanan dan ke kiri. Cemberut.
“Iiih, sebel deh! Diskriminasi banget sih…” Intan berbicara sendiri.
Tok Tok Tok…
“Ada apa Bu? Maaf Intan lagi nggak mau diganggu, Intan mau belajar.” Intan beralasan
Tok Tok Tok…
“Iya-iya Bu Intan buka pintu, tapi Ibu janji jawab ya pertanyaan Intan tadi, kenapa Intan item? Kenapa juga Intan dikasih nama Intan yang nggak sesuai itu? Janji? Bu… Ibu…Iiih! Kok Ibu diem aja.” Muka Intan ditekuk Intan beranjak berjalan membuka pintu.
Klek…
“Eh, hehe Lila kirain Ibu.” Intan nyengir kuda
Lila pun masuk lalu duduk di ranjang Intan
“Oh…lagi belajar, belajar kok baca majalah. Coba Aku lihat…” Lila membuka majalah itu.
“Hah! Ya ampun kenapa gambar modelnya kamu itemin semua Tan?” Lila melotot
“Ya abisnya semua ngiklanin kosmetik pemutih, modelnya putih-putih. Nggak ada satupun iklan yang ngiklanin kulit putih yang pengena jadi item."
“Yaampun Tan tapikan nggak mesti seantipati itu!”
“Aku Cuma mau lihat, gimana kalau kulit para model itu item kaya aku, pasti mereka juga nggak akan jadi model.”

***
Suasana kelas 2 IPS 2 tengah serius mendengarkan Pak Sudrajat membahas masalah politik apartheid—penghapusan diskriminasi terhadap orang berkulit hitam
“Jadi, akibat adanya diskriminasi ras ini orang-orang berkulit hitam sangat dimarginalkan, keberadaan mereka dalam status sosial jauh di bawah orang-orang berkulit putih.” Pak Ajat—panggilan akrabnya sesekali membenahi kacamata yang miring.
Tuhkan emang kaum item itu selalu dimarginalkan , sebel! Gumam Intan dalam hati
“Tapi anak-anak, setelah Nelson Mandela menghapuskan politik apartheid terbukti orang-orang berkulit hitam memiliki kemampuan yang sama dengan orang-orang berkulit putih.” Pak Ajat meneruskan
Boong banget! Apanya yang dihapuskan, buktinya masih banyak penjajahan secara yang nggak langsung terhadap kaum berkulit hitam. Intan menggerutu dalam hati
Intan terlihat tidak bersemangat mengikuti pelajaran sejarah kali ini . tiba-tiba saja…
“Pak, kayaknya penghapusan itu belum secara menyeluruh disadari deh Pak, buktinya iklan-iklan di TV masih menyudutkan orang-orang berkulit hitam, seolah-olah hitam itu buruk, hitam itu tidak menarik, atau kasarnya hitam itu aib.” Intan terlihat berhati-hati berbicara walau dalam hatinya berapi-api.
Eh… Suuuut, pssst…dari sudut pojok ada anak-anak yang iseng membicarakan. Salah satu teman pria yang terbilang usil berkomentar.
“Eh, kayaknya si Intan kesinggung tuh… hihihi” mereka berbisik.
Pak Ajat berusaha menjawab.
“Itu kaitannya dengan pemilik modal. Segala sesuatu yang sudah masuk TV yang terpenting uang, masalah-masalah lainnya pasti di nomor duakan.” Ujar Pak Ajat
Yeah…intinya belum terhapuskan kan Pak?! Ujar Intan dalam hati. Intan merasa kurang puas dengan jawaban Pak Ajat.
Teeet…Teeet…bel istirahat berbunyi.
“Kantin Yuk…” ajak Lila, Intan tak mengiyakan namun tak juga menolak.
Tiba-tiba Intan menjadi sangat murung
“La, kamu nggak malu berteman sama Aku? Aku item, kamu putih, cantik lagi.” Sambil menyeruput jus Intan bertanya
“Memangnya ada undang-undang yang melarang orang berkulit putih nggak boleh main dan bersahabat dengan orang berkulit hitam?” mata Lila melirik ke arah Intan.
“Iya nggak sih, Cuma kadang aku ngerasa nggak nyaman dengan kulitku yang item ini La, aku merasa orang-orang mencibir aku.”
“Itukan menurutmu nyatanya nggak kan!” jawab Lila santai
Sesaat suasana menjadi serius. Intan mematung. Ia merasa tertekan dengan sikapnya sendiri.
“Tan, kenapa sih kamu harus pusing-pusing mikirin kulit. Hitamkan juga ciptaan Tuhan. Kamu pasti Punya kelebihan Tan.”
“Kelebihan, kelebihan apa? Aku si hitam yang nggak manis, buruk rupa, dan nggak punya daya tarik.”
Rupanya Intan masih menganggap dirinya orang yang paling menderita, terhina, tertindas, dan terluka se dunia. Lila berinisiatif memecahkan masalah ini. Intan semakin berlebihan menyikapi kulitnya yang hitam.
“Aku nggak minta dilahirkan berkulit putih dan aku juga tidak pernah berpikir untuk membeda-bedakan teman.”
Lila memegang erat tangana Intan
“Aku akan jawab pertanyaan yang kamu ajukan untuk Ibu.”
“Ka…kamu La!” intan tergagap-gagap
“Pertama, kenapa kulit kamu hitam? Hitam adalah kulit dan kamu punya kulit berwarna hitam. Putih adalah kulit dan aku memiliki kulit berwarna putih. Intinya?” Lila bertanya
Intan memicingkan matanya. Mulutnya mengigit ujung sedotan
“Intinya kita punya kulit.” Intan menjawab simpel
“Nah pinter! Oke yang ini beres ya, sepakat? Oke sepakat.” Lila melanjutkan pertanyaan berikutnya
“Kulit hitam atau kulit putih adalah sama tetap kulit dan itu hak prerogative Tuhan Tuhan yang menciptakan, betulkan? Nah… jadi intinya?” Lila bertanya lagi
“Intinya, kita harus bersyukur punya kulit, dari pada nggak iiih… serem!”
“Nah sip, pintar!” Lila mengacungkan kedua jempolnya.
Intan tak lagi berwajah suram. Air mukanya tidak lagi kusut, kemayu dan tidak ada lagi ekspresi-ekspresi kesedihan.
“masalah nama, kenapa harus Intan? Intan itu indah.”
“Tunggu-tunggu tapi intan itu nggak item, tapi berkilau. Nggak kaya aku.” Intan protes
“Eh… jangan salah loh…siapa bilang Intan nggak ada yang item!” Lila pur-pura sok tahu. Dalam hatinya bertanya, Ada nggak ya intan warnanya item? Ah mudah-muidahan aja ada.
“Memang ada?” Intan balik tanya
“Hmm, ada-ada malah lebih berkilau, berkilaukan nggak harus putihkan...” Lila berusaha meyakinkan Intan dengan hal yang sebenarnya Lila belum tahu pasti, yang ada di pikirannya bagaimana caranya Intan semangat lagi.
“Kamu dikasih nama Intan karena kamu hidup dan bercahaya di hati kedua orang tuamu karena kamu anak satu-satunya. Memangnya nama Intan punya orang yang putih, cantik, dan kaya aja.”
“Ya nggak lah!” Jawab Intan
“Nama itu pantas buat kamu yang baik dan pintar walau nggak manis eit…katamu loh. Tapi berhasil menangin juara top model majalah Sweet Seventeen.”
Lila dan kawan-kawan memberikan surprise pada Intan. Horeeee… teman-teman yang sedang duduk-duduk di kantin menyalami Intan. Ternyata Lila telah menyiapkan semua kejutan itu.
“Ta…tapi, aku nggak pernah merasa mengirimkan fotoku, bukannya teman-teman sekolah menunjuk kamu La sebagai perwakilan sekolah, bukan aku!”
“Aku ikut tapi fotoku nyangkut, hehe… katanya aku kalah manis dari kamu Tan.”
Kali ini Intan cekikikan seolah mulai melupakan hal-hal yang memang tidak seharusnya Ia terlalu pikirkan. Mata Intan sangat berbinar saat itu. Dia baru menyadari teman-teman sangat perduli terhadapnya.
Dalam hatinya berujar, benar kata Ibu hitam itu spesial karena orang yang punya kulit hitam lebih apa adanya. Aku kini bangga dengan kulit hitamku, aku berbeda dengan yang lain. Aku nggak mesti pakai topeng, aku ya aku dan yang terpenting di mata keluarga dan teman-temanku aku itu spesial.
Sontak Intan berdiri dari duduknya
“Teman-teman… Aku siap pake baju putih! Pake putih? Siapa takut!” Intan mengepalkan tangan. Intan , Lila dan semua kawan-kawan tertawa lepas seolah alam dan angin menjadi perantara penyampai kebahagiaan mereka pada Dunia.

Serang-Pamulang 4 januari 2007-09-07
Revisi akhir September 07

Tidak ada komentar: